4 Fakta Mendasar Soal Bahan Bakar Minyak di Indonesia

fakta bahan bakar indonesia
fakta bahan bakar indonesia
fakta bahan bakar indonesia

Menurut daftar situs judi bola online terbaik paling bagus dan terpercaya mengisi bahan bakar jelas menjadi rutinitas wajib untuk siapapun yangmengemudikan kendaraan bermotor. Meski mobil atau sepeda bertenaga listrik telah mulai populer, mayoritas orang masih memenuhi bahan bakarnya di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum atau SPBU Pertamina untukmelakukan pembelian Bahan Bakar Minyak (BBM). Memilih tipe-tipe BBM yangterdapat di SPBU tampaknya tidak jarang kali jadi dilema tersendiriuntuk para pengendara di Indonesia.

Dari Premium yang dulunya jadi opsi utama untuk yang tidak punya mobil mewah, sekarang dihilangkan secara bertahap. Lalu Pertalite diluncurkan sebagai pilihan yang tidak banyak mahal namun lebih berbobot |berbobot | berkualitas dan ramah lingkungan. Meskipun begitu tetap saja pemerintah menyarankan untuk pemilik kendaraan roda empat untuk melulu menggunakan Pertamax. Akhir-akhir ini klaim ‘ramah lingkungan’ Pertalite, sebagaimana diusung oleh Tirto, pun ternyata dipersoalkan dan dituduh sesat. Kok dapat ya?! Bukan hanya masalah harganya aja lho yang lain guys, yuk kenali perbedaan dan seluk-beluknya bareng.

1. ‘Premium’, ‘Pertamax’, maupun ‘Pertalite’ tersebut sebenarnya hanya sekadar brand dari produk bahan bakar yang dipasarkan Pertamina
Mungkin sekilas pengandaian ini tersiar sepele, tapi bila kamu cari Premium, Pertamax, lagipula Pertalite di luar negeri, dipastikan pasti nggak bakalan ketemu. Nama-nama yang di benak kita telah identik dengan bensin atau BBM ini, ternyata punya wujud dan sebutan bertolak belakang di tiap negara. Tergantung bagaimana perusahaan produsen minyak laksana Pertamina menamai dan memisahkan produk-produk BBM yang mereka jual. Secara umum sih walaupun nama atau sebutannya berbeda-beda, seringkali pasti terdapat klasifikasi BBM dari yang kualitasnya biasa saja hingga kualitas super di seluruh negara.

2. Standar perbedaan kualitas BBM secara global tersebut terletak pada kandungan oktannya. Semakin tinggi angka Research Octane Number (RON)-nya, maka BBM itu dirasakan lebih superior
Kalau sebelumnya, masyarakat Indonesia mungkin melulu mengenal perbedaan utama bensin sekedar bersubsidi atau non-subsidi, pengenalan Pertalite pada tahun 2015 seolah-olah lebih membuka cakrawala kita mengenai keberagaman BBM. Pertalite dijual sebagai BBM non-subsidi yang tidak semahal Pertamax namun lebih berbobot | berbobot | berkualitas daripada Premium. Kenapa dapat dibilang lebih berkualitas?! Karena kandungan ‘octane‘ atau oktan yang dinamakan ‘Research Octane Number’ (RON) Pertalite yang sedang di angka 90, tidak banyak lebih tinggidikomparasikan Premium yang melulu 88. Sedangkan RON Pertamax dan Pertamax Plus sebesar 92 serta 95.

Namun BBM super di Indonesia semacam Pertamax dengan RON 92, di tidak sedikit negara lain, terutama di negara maju laksana negara-negara Eropa, hanya dirasakan sebagai opsi biasa. Bahkan tidak sedikit negara yang telah tidak meluangkan BBM di bawah RON 90. Terlepas dari disubsidi atau tidak, BBM dengan oktan yang lebih tinggi pasti dipasarkan dengan harga yang lebih mahal.

3. Semakin tinggi nilai RON, bahan bakar dinamakan lebih berbobot |berbobot | berkualitas karena pembakarannya yang lebih efisien. Makanya BBM beroktan tinggi juga dipercayai akan jauh lebih ramah lingkungan
Nilai kandungan oktan atau RON ini mengindikasikan seberapa besardesakan yang dapat diserahkan sebelum kesudahannya bahan bakar dapat terbakar secara spontan. Artinya semakin tinggi nilai RON, maka bahan bakar akan kian lambat terbakarnya sampai-sampai residu yang ditinggalkan di mesin juga semakin minim. Namun ciri khas super dari BBM beroktan tinggi ini pun tentunya mesti disokong dengan kecocokan mesin kendaraan yang dimiliki. Kendaraan lama seringkali cukup memakai BBM reguler dan malah tidak kompatibel dengan yang super. Namun kendaraan-kendaraan keluaran teranyar atau yang bermesin besar, bakal lebih tepat guna dan irit jika memakai BBM beroktan tinggi. Penggunaan BBM palingtepat guna inilah yang diharapkan dapat menjadi tahapan positif guna meminimalisir akibat negatif pada lingkungan.

4. Nah klaim ramah lingkungan berikut yang dinilai oleh sejumlah kalangan tidak tepat bila dicantumkan pada Pertalite. Meskipun lebih tinggi nilai oktannya dibanding Premium, namun masih jauh dari standar internasional
Pada 2003 yang lalu, pemerintah melewati Kementerian Lingkungan Hidup menilai bahwa Indonesia mulai memakai aturan standar emisi Euro 2. Kadar oktan bahan bakar standar Euro 2 ialah RON 92 atau seminimalnya RON 91. Sedangkan pada April 2017 kemudian negara anda sepakat ikut menambah standar Euro 4. Otomatis kadar oktan yang disarankan juga seharusnya naik. Kalau mengekor standar Euro 2 lagipula Euro 4, Pertalite belumtergolong bahan bakar ramah lingkungan. Maka dari itu, Ketua Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KKPBB), Ahmad Safrudin, menuliskan bahwa klaim ramah lingkungan Pertalite tersebut kurang tepat dan menyesatkan publik.

Kalau menyaksikan jenis-jenis BBM yang dipasarkan di negara lain, tipe BBM di Indonesia memang tergolong di kisaran oktan rendah. Di negara-negara tetangga laksana Malaysia, Singapura, atau Thailand, BBM yangtidak sedikit ditemukan telah berada di kisaran RON 95. Apalagi di negara yang mempunyai regulasi ketat mengenai umur mobil- mobil hanyadapat digunakan laksana Jepang dan negara-negara Eropa, seluruh mobil dengan teknologi teranyar pastinya memerlukan bahan bakar yang lebih efisien. Nah lho terus gimana ya kira-kira pemerintah kita akan mengeksekusi kebijakannya untuk merealisasikan standar Euro 4 yang rencananya akan dilakukan pada tahun 2018 ini?! Ya semoga berjalan fasih deh…

Uncategorized

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *